Sabtu, 18 Mei 2013

Komedian Drama



(Nafiza bernyanyi di atas panggung)
Narator    : Nafiza sedang berada di puncak kesuksesan. Menjadi penyanyi terkenal dan juga aktris sukses yang kaya raya. Dia dipuja banyak orang, dicintai banyak orang, dan namanya selalu ada di judul majalah, akibat banyaknya prestasi yang diraih.

(Nafiza dikejar-kejar wartawan)
Wartawan1        : Apa rahasia kesuksesan anda?
Nafiza                : Selalu bekerja keras dan berdoa kepada Allah.
Wartawam2      : Bagaimana anda mempertahankan karir?
Nafiza                : Saya selalu belajar agar lebih baik.
Wartawan3        : Siapa yang berperan dalam karir anda?
Nafiza                : Keluarga dan teman-teman.

(Nafiza masuk ke mobil)
Nafiza                : Ke rumah eyang subur, Pak.
Supir                  : Iya. Bagaimana tadi acaranya?
Nafiza                : Bagus, dan meriah. Saya senang.
Supir                  : Alhamdulillah.
Nafiza                : Iya, alhamdulillah.

(Sampai di rumah eyang subur)
Narator                : Eyang subur adalah guru spiritual Nafiza. Dia orang yang sangat disegani di lingkungannya. Eyang subur sangat kaya dan memiliki tiga orang istri.
(Eyang subur dan dua istrinya sedang makan siang)
Nafiza                  : Assalamualaikum
Eyang dan istri    : Walaikumsalam WR WB.
Eyang Subur        : Kemari Nafiza.
(Nafiza merangkak dan mencium tangan eyang subur 3x)

Istri ke-2              : Siapa ini?
Eyang Subur        : Ini salah satu muridku.
Nafiza                  : Maaf eyang saya baru datang kemari.
Eyang Subur        : Tidak apa-apa. Mana barang yang aku minta?
Nafiza                  : Maaf eyang. Saya sibuk.
Istri ke-3              : Barang apa?
Eyang Subur        : Kepo.
Istri ke-1              : Loh .. ada tamu (membawa makanan)
Eyang Subur        : Siapa ini? Pembantu baru?
Istri ke-1              : AKU ISTRIMU!
Eyang Subur        : Istriku?
Istri ke-1              : (Marah, akan beranjak pergi)
Eyang Subur        : (Bernyanyi dalam bahasa arab) “Jangan pergi .. jangan pergi .. jangan kau pergi, ku tak ingin sendiri.” Jangan marah ye humairoh. Bercanda.
Istri ke-1              : Oke. Ini siapa?
Nafiza                  : Saya Nafiza, ummi.
Istri ke-1              : Kamu artis itu ya?
Nafiza                  : Iya.
Istri ke-2              : Oh kamu penyanyi yang sedang terkenal itu?
Nafiza                  : Iya.
Istri ke-3              : Yang kaya dan banyak fans itu?
Nafiza                  : Iya.
(Ketiga istri eyang subur saling memandang penuh arti. Kemudian bersamaan beranjak
dan mengambil kertas serta camera)
Istri 1,2,3             : Saya minta tanda tangan!! Minta foto!!
Narator                : Pause! Ternyata mereka adalah fans Nafila.
Eyang Subur        : Sudah sudah. Kalian masuk saja sana!
(Istri-istri masuk)
Nafiza                  : Maaf eyang. Saya tidak ada waktu.
Eyang Subur        : Kamu ingin terus terkenal tidak?
Nafiza                  : Iya eyang.
Eyang Subur        : Jadi cepatlah beli mobil itu untuk saya.
Nafiza                  : Baik eyang.
Eyang Subur        : Bagus. Sekarang apa yang kamu mau?
 Nafiza                 : Saya ingin terlihat lebih cantik, Eyang.
Eyang Subur        : Lebih cantik?
Nafiza                  : Iya eyang.
Eyang Subur        : Baik, tunggu.
  (Masuk, mengambil kopi hitam dan sekeranjang bunga melati)
                            Ini. Silahkan minumlah kopinya, dan makanlah bunga melatinya.
Nafiza                  : Makan bunga melati?
Eyang Subur        : Iya. Kamu ingin lebih cantik kan?
Nafiza                  : Baik, baik eyang. (Sambil meminum kopi dan makan melati)
Eyang Subur        : Tunggu saja. Auramu akan lebih terpancar. Jika ingin lebih cepat, maka kamu harus cepat memberi saya mobil.
Nafiza                  : Baik eyang.
Eyang Subur        : Apa besok kamu bisa membawa mobil itu?
Nafiza                  : Insyaallah eyang.
Eyang Subur        : Bagus. Baiklah, silahkan pulang.
Nafiza                  : Terima kasih eyang. (Cium tangan 3x)
Narator                : Pause! Eyang Subur sudah berpengalaman menjadi paranormal. Dia memiliki banyak pasien. Termasuk Nafiza.

(Datang istri-istrinya akan membereskan meja makan)
Istri ke-3              : Apa yang dia minta?
Eyang Subur        : Ingin lebih cantik.
Istri ke-1              : Bagaimana dengan mobilnya?
Eyang Subur        : Belum dia beli. Tapi akan segera.
Istri ke-2              : Dia sudah kaya, mintalah barang yang lebih mewah.
Eyang Subur        : Iya tenang saja.

(Arya mengetuk pintu)
Arya                     : Assalamualaikum.
Eyang Subur        : Siapa itu? Tolong bukakan pintu.
Istri ke-3              : Baik.
(Membukakan pintu rumah)
Arya                     : Assalamualaikum.
Istri ke-3              : Walaikum salam. Oh Arya. Masuk, masuk. Silahkan.
Arya                     : Eyang subur ada, ummi?
Istri ke-3              : Ada, ada. Beliau sedang di ruang makan. Silahkan masuk.
Arya                     : Terima kasih ummi.

(Arya masuk, merangkak, mencium tangan eyang 3x)
Arya                     : Assalamualaikum. Selamat siang eyang.
Eyang Subur        : Walaikumsalam. Oh Arya. Bagaimana bisnismu?
Arya                     : Bisnis saya sedang bagus eyang. Berkat bantuan eyang.
Eyang Subur        : Iya, tentu saja. Lalu apa yang akan kamu beri kepada saya?
Arya                     : Apa saja yang eyang minta.
Eyang Subur        : Bagaimana dengan istrimu?
Arya                     : Istri saya?
Eyang Subur        : Iya. Aku ingin istrimu.
Arya                     : Tapi ............
Eyang Subur        : Apa kamu ingin bisnismu bangkrut?
Arya                     : Tidak eyang.
Eyang Subur        : Maka bawalah istrimu kemari dan akan aku nikahi dia. Aku akan merawatnya.
Arya                     : Ba .. baik eyang.
Eyang Subur        : Bawa dia besok.
Arya                     : Baik eyang.
Eyang Subur        : Oke, silahkan kamu pulang. Saya ingin beristirahat.

(Istri ke-2 datang)
Istri ke-2              : Eyang ingin beristirahat?
Eyang Subur        : Iya.
(Istri ke-3 datang)
Istri ke-3              : Beristirahat di kamar saya saja, Eyang.
Istri ke-2              : Di kamar saya saja!
(Istri ke-1 datang)
Istri ke-1              : Di kamar saya saja!
(Mereka bertiga berebutan)
Eyang Subur        : Sudah, sudah. Saya tidur di rang tamu saja.
(Istri-istri kecewa)

Narator                : Murid-murid Eyang Subur sangat patuh kepadanya. Termasuk Arya dan Nafiza. Mereka segara mencari apa yang diinginkan Eyang Subur. Arya ingin menceraikan istrinya untuk dinikahi eyang subur.
(Di rumah Arya. Istrinya yang sholehah sedang selesai sholat)
Arya                     : Istriku?
Istri Arya              : Iya?
Arya                     : Aku ingin bicara.
Istri Arya              : Yasudah, bicara saja.
Arya                     : Bagaimana jika kita bercerai saja?
Istri Arya              : Apa? (music : JENG .. JENG ...) Kenapa?
Arya                     : Eyang Subur ingin menikahimu.
Istri Arya              : Kamu gila? Aku tidak mau!
Arya                     : Ayolah. Jika tidak usahaku akan bangkrut.
Istri Arya              : Kamu syirik. Jangan kamu percaya dengan Eyang.
Arya                     : Dia yang sudah membuat kita kaya.
Istri Arya              : Allah yang membuat kita kaya!
Arya                     : Kamu tidak tau apa-apa. Aku ingin usahaku sukses agar kamu bahagia.
Istri Arya              : Aku lebih bahagia jika kamu tidak syirik dan meninggalkan Eyang.
Arya                     : Tidak mungkin aku meninggalkan eyang. Besok aku harus membawamu kerumahnya.
Istri Arya              : Aku tidak mau! (Istri Arya pergi)
Arya                     : (Mengejar istrinya)

Narator                : Begitu pula Nafiza. Dia sibuk mencari jenis mobil terbaru yang diinginkan Eyang.
Nafiza                  : (menelepon orang-1)
                            Apa jenis mobil itu sudah ada? Aku ingin segera membelinya. Tidak bisa? Baik, baik.
                            (menelepon orang-2)
                            Apa jenis mobil yang aku pinta sudah ada? Aku ingin segera membelinya. Tolong usahakan. Tidak bisa?
                            (menelepon orang ke-3)
Apa jenis mobil itu sudah ada? Aku ingin segera membelinya. Tidak bisa? Baik, baik.
Narator              : Nafiza-pun terlihat putus asa.
           
            KEBESOKANNYA
 Narator               : Di rumah eyang subur, beliau sedang melayani muridnya yang lain.
 Eyang Subur       :(memegangi kepalanya sambil membaca doa kemudain menyembur air).
                            Sudah. Sebentar lagi kamu akan kaya.
Murid                  : Terima kasih eyang. (Sambil memberi amplop berisi uang)
(Kemudian Arya datang)
Arya                     : Assalamualaikum.
Eyang Subur        : Walaikumsalam. Mana istrimu?
Arya                     : Maaf eyang. Istri saya tidak mau diajak kemari. Dia kabur.
Eyang Subur        : Kabur? Apa kamu tidak mencarinya?
Arya                     : Saya sudah mencarinya eyang. Tapi saya tidak bisa menemukan dia.
Eyang Subur        : Bohong. Kamu tidak ingin istrimu dinikahi saya?
Arya                     : Tidak eyang. Saya akan memberi apa saja yang eyang mau.
Eyang Subur        : Jika memang begitu, carilah istrimu. Dan bawa kemari!
(Lalu Nafiza datang)
Nafiza                  : Assalamualaikum.
Eyang Subur&Arya: Walaikumsalam.
Eyang Subur        : Bagaimana mobil saya, Nafiza?
Nafiza                  : Maaf eyang. Saya belum bisa membelinya.
Eyang Subur        : (Marah. Memukul-mukul lantai)
                               Kenapa kalian ini? Aku sudah memberi apa yang kalian mau. Tetapi kalian tidak bisa memberi apa yang aku minta.
Nafiza&Arya        : Maaf eyang.
Eyang Subur        : Arya, aku sudah membuatmu sukses. Nafiza, aku sudah membuatmu terkenal. Lalu apa balasan kalian? Kalian pulang saja!
Nafiza&Arya        : Tapi eyang ..
Eyang Subur        : Sudah kalian pulang saja!

Narator                : Setelah hari itu, kehidupan Arya dan Nafiza sedikit berubah. Bisnis Arya perlahan-lahan sering merugi. Banyak klien yang meninggalkannya. Karir Nafiza pun meredup. Tawaran menyanyi berkurang drastis.
Arya                     : (menelepon-nelpon. Muka bangkrut. Frustasi)
                            Apa ini karena Eyang Subur?
Nafiza                  : (Nganggur. Frustasi)
                            Apa ini karena Eyang Subur?
Narator                : Kemudian adzan-pun berkumadang. Nafiza dan Arya-pun pergi berwudhu. Dan Sholat.
Narator                : Setelah selesai sholat, Arya-pun berdoa.
Arya                     : Yallah, maafkan saya yang sudah melupakanmu. Saya khilaf, saya khilaf. Tetapi saya bangkrut sekarang dan butuh bantuan yaAllah.
(Malaikat baik dan malaikat jahat datang)
Malaikat baik      : Bagus Arya. Minta maaflah kepada Allah atas perbuatanmu. Maka Dia akan membantumu untuk kembali sukses.
Malaikat jahat     : Arya, Eyang Subur akan lebih cepat membuatmu sukses.
Malaikat baik      : Tidak Arya. Itu syirik. Syirik adalah perbuatan dosa.
Malaikat jahat     : Yang penting kamu kaya.
Malaikat baik      : Jangan dengarkan dia Arya!
Malaikat jahat     : Jangan dengarkan dia Arya!
(Dua malaikat bertengkar-_-)

Narayor               : Demikian pula dengan Nafiza. Dia berdoa. 
Nafiza                  : YaAllah, maafkan saya yang sudah jauh darimu selama ini. Saya butuh bantuanmu agar bisa sukses kembali yaAllah.
(Malaikat baik dan malaikat jahat datang)
Malaikat baik      : Bagus Nafiza. Minta maaflah kepada Allah atas perbuatanmu. Maka Dia akan membantumu untuk kembali sukses.
Malaikat jahat     : Nafiza, Eyang Subur akan lebih cepat membuatmu sukses.
Malaikat baik      : Jangan Nafiza. Itu syirik. Syirik adalah perbuatan dosa.
Malaikat jahat     : Yang penting kamu sukses.
Malaikat baik      : Jangan dengarkan dia Arya!
Malaikat jahat     : Jangan dengarkan dia Arya!
(Dua malaikat bertengkar-_-)
(Malaikat jahat kalah haha. Jadi tinggal malaikat baik berbisik kepadaNafiza)

Narator                : Lama-kelamaan Nafiza sadar bahwa apa yang dilakukan Eyang subur adalah sesat. (Sementara Narator ngomong, Nafiza terus dibisiki Malaikat baik. Tapi tanpa suara)
                               Nafiza pun memutuskan untuk membuka perbuatan eyang subur yang sesat kepada Media. Dia memberi keterangan tentang praktek paranormal eyang subur kepada masyarakat.
(Nafiza sedang diwawancarai di sebuah acara TV)
Pembawa Acara  : Kembali lagi bersama saya, di (Nama acara TV). Masih bersama Nafiza disni. Jadi bagaimana cerita selanjutnya tentang eyang subur ini, Nafiza?
Nafiza                  : Dia meminta mobil, tetapi karena saya tidak bisa membelinya, dia marah. Saya tidak berkomunikasi dengan dia lagi.
Pembawa Acara  : Apa sebenarnya yang dilakukan eyang subur ini kepada murid-muridnya?
Nafiza                  : Dia membuat murid-muridnya sesat. Sudah banyak korbannya.
Pembawa Acara  : Lalu apa pesanmu kepada eyang subur ini?
Nafiza                  : Saya ingin mengingatkan, cepatlah bertobat. Hentikan perbuatan syirik ini.
Pembawa Acara  : Ada lagi?
Nafiza                  : Iya. Kepada murid-murid eyang subur, tinggalkan eyang subur dan kembali ke jalan Allah.
PembawaAcara   : Baiklah. Terima kasih Nafiza atas kedatangannya. Pemirsa, jika anda ingin tau bagaimana kelanjutan berita tentang eyang subur ini, tetap saksikan (Nama acara TV). Saya (Nama). Sampai jumpa.

Narator                : Setelah keterangan Nafiza di acara tersebut, berita tentang eyang subur menjadi semakin heboh.
Narator                : Karena ingin mendapat berita yang lebih lengkap, pembawa acara program TV itu mendatangi rumah eyang subur untuk bertemu dengan istri-istrinya.
(Di Rumah Eyang Subur)
Pembawa Acara  : Pemirsa, saya sedang berada dirumah eyang subur. Saya akan bertemu dengan istri-istri eyang subur. Mari ikuti saya.
                             Asalamualaikum.
Istri 1,2,3             : Walaikumsalam.
Pembawa Acara  : Selamat siang. Saya (Nama) dari (Acara TV). Boleh saya masuk?
Istri 1,2,3             : Iya iya silahkan masuk.
Pembawa Acara  : Nah, inilah ketiga istri eyang subur. Kita ingin tau nama masing-masing.
Istri ke-1              : Saya Musdalifah. Istri pertama.
Istri ke-2              : Saya Khodijah. Istri kedua.
Istri ke-3              : Saya Nurul. Istri ketiga.
Pembawa Acara  : Baiklah, kita sudah mendengar berita di televisi tentang keterangan Nafiza mengenai eyang subur. Bagaimana komentar anda bertiga?
Istri ke-1              : Kami sangat tidak setuju dengan keterangan Nafiza. Dia berbohong.
Pembawa Acara  : Apa kebohongan Nafiza menurut anda?
Istri ke-2              : Eyang subur bukan dukun. Dia wiraswasta. Dan dia tidak menyebarkan ajaran sesat.
Pembawa Acara  : Baiklah. Saya ingin bertanya mengenai kehidupan anda bertiga sebagai istri eyang subur. Apakah eyang subur adil?
Istri ke-3              : Iya, dia sangat adil.
Pembawa Acara  : Saya lihat baju, dan perhiasan anda bertiga ini sama. Apakah ini permintaan eyang subur?
Istri ke-1              : Iya. Dia tidak pernah membeda-bedakan kami bertiga.
Istri ke-3              : Kamu semua diberi barang yang sama.
Pembawa Acara  : Apa benar beritanya bahwa kalian menikahi eyang subur demi harta?
Istri ke-2              : Tentu saja tidak benar.
Istri ke-1              : Kami menikahi dia karena kami cinta kepada dia.
Pembawa Acara  : Lalu apa yang akan dilakukan eyang subur untuk menjawab tuduhan Nafiza?
Istri ke-3              : Dia meminta kami untuk sabar. Dia tidak akan membalas apa-apa.
Pembawa cara    : Baiklah. Boleh saya melihat-lihat rumah ini?
Istri 1,2,3             : Boleh, boleh. Silahkan.
(Berjalan-jalan melihat-lihat rumah)
Istri ke-3              : Ini koleksi eyang subur.
Pembawa Acara  : Sangat mewah. Apa ada koleksi lain?
Istri ke-2              : Dia juga suka mengoleksi mobil dan motor.
Pembawa Acara  : Baik, baik. Bagaimana dengan anak-anak mengenai berita ini?
Istri ke-1              : Tentu saja mereka stres dan sedih.
Pembawa Acara  : Oke, terima kasih untuk waktunya. Pemirsa, begitulah laporan saya dari rumah eyang subur. Terima kasih atas perhatiannya. Sampai jumpa. Wassalamualaikum WR WB.

Narator                : Melihat pembelaan dari istri-istri eyang subur, Nafiza mengajak korban-korban eyang subur untuk bersatu dan memberi keterangan juga.
(Sementara narator ngomong, nafiza menghubungi arya)
                            Termasuk Arya. Mereka-pun melakukan konferensi pers.

Nafiza                  : Jadi kali ini saya membawa saksi lain. Yaitu Arya dan Nina.
(Arya memberi keterangan sesuai video)
Nafiza                  : : Saya sudah 10 tahun menjadi murid eyang subur. Dan banyak yang saya beri kepada dia.
Arya                     : Sudah banyak korbannya. Cepatlah bertobat subur!
(sementara narator ngomong, memberi keterangan sedikit tapi tanpa suara)
Narator                : Semakin lama, berita ini semakin ramai. Kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah. Kubu eyang subur dibela oleh istri-istrinya. Sedangkan kubu Nafiza juga semakin keras menentang eyang subur. Masalah ini semakin rumit. Makin banyak pihak yang terlibat. (Sementara narator ngomong ini, ada dua kubu, dibagi dua gitu panggungnya. Istri DAN nafiza dkk. Sama-sama diwawancarai)
                               Termasuk dari MUI yang berusaha untuk menengahi.
MUI                     : Kami akan meninjau apakah benar subur ini sesat. Kami juga akan berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak dengan mempertemukan mereka.
Wartawan1         : Apakah anda yakin masalah ini bisa selesai?
MUI                     : Kami akan berusaha untuk membantu menyelesaikan.
Wartawan2         : Kapan mereka akan dipertemukan?
MUI                     : Tanggal 25 Mei 2013.
Wartawan3         : Dimana mereka akan dipertemukan?
MUI                     : Rencananya di kantor MUI. Tetapi kami mendengar kabar bahwa eyang subur sedang sakit, mungkin kami akan mempertemukannya di rumah eyang subur.
MUI                     : Baik, terima kasih. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Wassalamualaikum WR.WB.

Narator                : Akhirnya tibalah saat dimana kedua pihak saling dipertemukan di rumah eyang subur. Saat itu kondisi eyang subur sedang sakit.
(Eyang Subur berbaring ditempat tidur dikelilingi istri-istrinya)
Eyang Subur        : Mana Nafiza dan kawan-kawannya?
Istri ke-1              : Mereka sedang diperjalanan.
Istri ke-2              : Kamu yakin ingin menemui mereka sekarang?
Istri ke-3              : Kondisimu sangat lemah.
Eyang Subur        : Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku ingin meminta maaf kepada mereka.
Istri ke-1              : Apa? Kamu yakin?
Eyang Subur        : Iya.

(Nafiza dan Arya datang)
Arya                     : Assalamualaikum. Heh subur! (berteriak-teriak emosi). Kemana saja kamu selama ini?
Istri ke-2              : Eyang sedang sakit! Pelankan suaramu!
Nafiza                  : Dimana dia?
Istri ke-2              : Dia di kamar.
(Masuk ke kamar)
Arya                     : Ternyata kamu bisa sakit juga ya.
Nafiza                  : Jangn pura-pura. Ayo berdiri dan beri keterangan kepada wartawan kalau kamu benar sesat.
Eyang Subur        : Arya, Nafiza. Saya ingin meminta maaf kepada kalian. Maafkan saya yang sudah menyesatkan kalian. Saya mengakui kesalahan saya. Sepertinya waktu saya tidak lama lagi. Arya, tolong jaga istri-istri saya. (Backsound : Lagu laila ha illallah).
(Eyang Subur mati).

Narator                : Akhirnya kematian eyang subur membawa kedamaian kepada semua pihak. Berita mengenai kesesatannya sudah hilang dan kini semua menjadi lebih baik. Murid-murid eyang subur kembali ke jalan Allah. Nafiza kembali sukses dengan usahanya sendiri tanpa bantuan dukun. Tetapi Arya ..................
Arya                     : Saya terima nikahnya Musdalifah binti Samsul, Nurul binti Syueb, Khodijah binti Sumanto.
Penghulu             : Sah?
Semua                 : SAAHHHH ...

Narator                : Demikianlah drama dari kelompok kami. Maaf jika masih banyak kekurangan. Pesan kami,
Eyang Subur        : Jangan pernah menyekutukan Allah, karena hanya Allah yang bisa menakdirkan nasib kita.
Narator                : Ambil-lah hikmah dan pelajaran dari kisah ini. Tetapi jangan bagian menikahi 3 istri. Kami berharap masalah sebenarnya mengenai Eyang Subur dapat segera selesai. Kami dari kelompok 1. Terima kasih.
Semua                 : Wassalamualaikum WR WB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar